PADANG – Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang (HMTP FT UNP) menggelar Seminar Nasional Mining Fair 2026 di Auditorium UNP, Rabu (7/10/2026). Seminar yang menghadirkan delapan narasumber dari unsur pemerintah, industri, asosiasi, dan praktisi ini diikuti 1.001 peserta dari kalangan mahasiswa UNP, perguruan tinggi di sekitar Padang, dan masyarakat umum.
Mengusung tema “Sinergi Pemerintah dan Industri dalam Mewujudkan Pertambangan yang Berkelanjutan, Inovatif dan Berdaya Saing Global”, seminar dibagi dalam dua sesi pemaparan. Registrasi peserta dibuka pukul 07.00 WIB dan acara dimulai pukul 08.00 WIB. Materi yang dibahas mencakup regulasi dan hilirisasi, teknologi tambang, keselamatan kerja, hingga elektrifikasi alat berat.
Acara diawali dengan laporan Ketua Pelaksana William Jessicle Ketupel, dilanjutkan sambutan Ketua HMTP FT UNP Refli Hidayat, Wakil Dekan FT UNP Dr. Ir. Fadhilah, S.Pd., M.Si., IPM, yang mewakili Dekan, serta Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama dan Hubungan Internasional UNP Dr. rer. nat. Deski Beri, S.Si., M.Si., yang mewakili Rektor. Sambutan Gubernur Sumatera Barat disampaikan Kepala Bidang Dinas Pendidikan Sumatera Barat Mahyan, S.Pd., M.M., yang mewakili bapak gubernur. Seminar kemudian dibuka secara simbolis melalui pemukulan gong oleh Mahyan bersama Deski Beri dan Fadhilah. Seminar ini digelar untuk menambah wawasan mahasiswa dan masyarakat tentang perkembangan industri pertambangan langsung dari pemerintah dan pelaku industri.
Sesi pertama dipandu moderator Fariz Aditya, S.T., M.T. Narasumber pertama, Underground (UG) Chief Engineer, Production Reliability PT Freeport Indonesia Riezky Yarin, S.T., membawakan materi bertema “Transformasi Teknologi Underground Mining PT Freeport Indonesia: Dari Remote Operation Menuju Autonomous dan Smart Mining”. Ia memaparkan perjalanan teknologi tambang bawah tanah, dari pengoperasian jarak jauh menuju sistem otonom dan tambang pintar. Materi ini menggambarkan bahwa penerapan teknologi tersebut menjadi arah pengembangan tambang bawah tanah yang lebih aman dan produktif, sekaligus menuntut kesiapan sumber daya manusia.
Senior External Relations Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia–Indonesian Coal Mining Association (APBI-ICMA) Marvin Gilbert Juliano, S.T. kemudian membahas penguatan kolaborasi antara pemerintah dan industri, dengan pesan bahwa keberlanjutan sektor pertambangan sulit dicapai tanpa kerja sama yang erat kedua pihak.
Dari pemerintah, Koordinator Perencanaan Produksi dan Pemasaran Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuda Pratama mewakili Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Dr. Ing. Tri Winarno, S.T., M.T., yang berhalangan hadir. Ia mengikuti seminar secara daring melalui Zoom dan mengulas “Masa Depan Industri Tambang Indonesia Melalui Regulasi, Hilirisasi, dan Peningkatan Daya Saing Global”, yang menyoroti peran regulasi dan hilirisasi dalam meningkatkan nilai tambah serta daya saing pertambangan Indonesia.
Sesi pertama ditutup oleh Founder Prawira Group Boby Rahman, S.T. dengan materi “Peran Kepemimpinan dan Inovasi Industri dalam Mendorong Pertambangan yang Berkelanjutan dan Berdaya Saing Global”. Materi ini menekankan bahwa kepemimpinan dan inovasi menjadi kunci bagi industri untuk tumbuh secara berkelanjutan.
Sesi kedua dipandu moderator Rizto Salia Zakri, S.T., M.T. Director Corporate Health, Safety, and Environment (HSE) PT Sinarmas Mining Ir. Retno Nartani membuka sesi dengan materi “Transformasi HSE Melalui Teknologi dan Inovasi untuk Mewujudkan Pertambangan yang Aman, Berkelanjutan, dan Berdaya Saing Global”, yang menegaskan bahwa teknologi dan inovasi berperan penting dalam menciptakan tambang yang aman. Praktisi pertambangan Ir. Jeffrey Mulyono menyusul dengan topik “Konsep Pengembangan Pertambangan Berkelanjutan dalam Perspektif Keilmuan dan Good Mining Practice”, yang menekankan landasan keilmuan dan penerapan praktik pertambangan yang baik.
Dari sisi operasional, Coal Hauling & Run of Mine (ROM) Team Leader PT Borneo Indobara Bayu Enasora, S.T. mengulas “Transformasi Operasional Pertambangan dari Konvensional Menuju Elektrifikasi”, yakni upaya mewujudkan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan di era pertambangan modern. Topik serupa dibahas Center of Excellence Section Head PT Putra Perkasa Abadi Toni Tanamal, S.T. melalui materi “Pemanfaatan Alat Berat Listrik: Inovasi Operasional Menuju Pertambangan Berkelanjutan dan Berdaya Saing Global”.
Dalam sesi tanya jawab, peserta tampak antusias. Sejumlah pertanyaan diajukan kepada Riezky Yarin terkait transformasi teknologi tambang bawah tanah menuju autonomous dan smart mining.
Sebagai bentuk apresiasi, panitia menyerahkan plakat dan sertifikat kepada seluruh narasumber. PT Freeport Indonesia juga memberikan merchandise kepada Resi Gusnila Sari, mahasiswa PAI UNP, serta bingkisan kepada Kevin Jeremia Rogat, mahasiswa D3 Teknik Pertambangan, yang telah mengajukan pertanyaan kepada narasumber.
Hadir pula Kepala Museum Adityawarman Dr. Tuti Alawiyah, perwakilan Dinas ESDM Sumatera Barat, perwakilan Balai Diklat Tambang Bawah Tanah (BDTBT) Sawahlunto, Wakil Direktur Vokasi UNP Dr. Ir. Bambang Heriyadi, M.T., Kepala Program Studi D3 Teknik Pertambangan Ir. Tri Gamela Saldy, S.T., M.T., Koordinator Program Studi S1 Teknik Pertambangan Dr. Ir. Heri Prabowo, S.T., M.T., serta sembilan dosen Teknik Pertambangan UNP. Dari unsur mahasiswa, hadir perwakilan HIMATA STTIND Padang, HIMA Geo UNP, HIMA PJSIG UNP, BEM KM UNP, HIMATIKA UNP, dan sejumlah organisasi kemahasiswaan lainnya.
Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDG) 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Seminar ini juga mencerminkan implementasi Kampus Berdampak sesuai arah kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan industri dalam memperkuat kompetensi mahasiswa serta transfer pengetahuan terapan.
Melalui seminar ini, mahasiswa diharapkan memperoleh gambaran nyata tentang tantangan dan peluang di dunia pertambangan, terdorong menyiapkan kompetensi sejak dini, serta memiliki jejaring yang lebih luas dengan pemerintah dan industri. Kegiatan serupa diharapkan terus menjadi wadah belajar dan kolaborasi bagi mahasiswa.










